Corona dan Kehambaan Manusia

Asep Firmansyah Guru SMK YAMI Waled dan Dosen STSI BCU Cirebon

33

Jaringanpos Opini | Asep Firmansyah, M.Pd – Kehadiran Virus Corona atau Covid-19 membuat penghuni dunia kocar-kacir. Umat manusia gempar dan kalang kabut. Apalagi semenjak media massa dari hari kehari memberitakan bahwa virus ini semakin banyak menelan korban jiwa. Bukan puluhan atau ratusan lagi, tetapi sudah mencapai angka ribuan. Seperti yang diinformasikan kompas.com per 12 April 2020 bahwa Virus Corona telah menyebar ke lebih dari 200 negara di dunia. Angka infeksi total Virus Corona pun mencapai 1,7 juta kasus dengan angka kematian 108.544.

Berikut daftar 10 negara dengan kasus Virus Corona tertinggi dunia, berdasarkan data Worldometers. (1) Amerika Serikat 530.384 kasus infeksi dengan 20.513 kematian. (2) Spanyol 163.027 kasus infeksi dengan 16.606 kematian. (3) Italia 152.271 kasus infeksi dengan 19.468 kematian. (4) Perancis 129.654 kasus infeksi dengan kematian 26.391. (5) Jerman 124.908 kasus infeksi dengan 2.736 kematian. (6) China 81.953 kasus infeksi dengan kematian 3.339. (7) Inggris 78.991 kasus infeksi dengan kematian mencapai 9.875. (8) Iran 70.029 kasus infeksi dengan 41.947 kematian. (9) Turki 52.167 kasus infeksi dengan 1.101 kematian. (10) Belgia 28.018 kasus infeksi dengan 3.346 kematian. Adapun di Indonesia, masih menurut kompas.com per 12 April 2020, bahwa jumlah kasus infeksi Covid-19 mencapai 4.241 dan kasus kematian 373.

Ini adalah pamdemi hebat yang melanda dunia setelah pandemi-pandemi sebelumnya. Berdasarkan catatan WHO, pandemi yang pernah melanda dunia di antaranya sebagai berikut. Pertama, pandemi Maut Hitam (Black Death) yang melanda Eropa dan Asia pada tahun 1347 silam. Pandemi Black Death merenggut 75 juta nyawa.

Kemudian, pandemi virus Influenza atau Flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918 dengan 50 juta kematian. Lalu, pandemi HIV/AIDS yang terjadi pada tahun 1981 dengan 25 juta kematian. Selanjutnya, pada tahun 2009 pandemi Flu Babi. Flu Babi terdeteksi pertama kali di Amerika Serikat dan menyebar cepat ke seluruh dunia. Penyakit ini menelan korban 151.000 sampai 574.000 kematian.

Entah sampai kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Tak ada yang tahu kecuali Tuhan Yang Maha Mengetahui. Sebagai manusia, tugas kita saat ini hanyalah berdoa dan berikhtiar. Melakukan anjuran yang diintruksikan oleh pakar kesehatan dan pemerintah serta berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Tetaplah tenang. Janganlah panik apalagi sampai stres dalam menghadapi keadaan ini. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada seorang hamba di luar batas kemampuan hamba-Nya. Bagi kita yang masih sehat, terus memerketat diri sesuai langkah preventif yang telah ditentukan pakar kesehatan.

Kemudian bagi seseorang yang telah dinyatakan positif, teruslah berusaha untuk dapat kembali fit. Patuhi perintah tim medis di rumah sakit. Jangan pernah menghakimi diri sendiri. Tetaplah berdoa memohon yang terbaik kepada Tuhan untuk hidup ini.

“It is better to light a candle than curse the darkness.” “Lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan.” Begitulah sikap yang seharusnya kita lakukan di tengah keadaan genting seperti ini. Marilah kita ambil hikmah dari peristiwa ini. Setiap apa yang telah Tuhan takdirkan pasti memiliki hikmah di dalamnya. Penulis teringat apa yang disampaikan oleh Aa Gym dalam acara Bincang-bincang Santai Online bersama Ustaz Abdul Somad semalam. Beliau mengatakan bahwa hikmah dalam peristiwa Corona ini yaitu bahwa manusia sebenarnya lemah tidak berdaya.

Jangankan menghadapi makhluk yang besar, menghadapi makhluk berukuran kecil saja tidak berdaya. Orang yang kuat yang katanya otot kawat tulang besi kini sembunyi karena tak sanggup melawan virus Corona. Orang kaya juga sembunyi. Ia tak bisa mempergunakan hartanya untuk melawan virus Corona. Para pejabat yang punya kedudukan tinggi juga sama saja sembunyi karena pangkatnya tak mampu untuk melawan virus Corona. Inilah kehambaan kita sedang diuji oleh Allah. Suksesnya seorang hamba dalam mengabdi kepada Allah itu dicirikan oleh empat faktor.

  1. Jika kita mampu mengakui kelemahan diri kita. Tidak ada daya dan upaya kecuali Allah Yang Mahakuasa
  2. Jika kita merasa bodoh. Kita ini tidak tahu apa-apa hanya Allah yang Mahatahu segalanya.
  3. Jika kita merasa fakir. Kita ini tidak punya apa-apa, semuanya milik Allah. Allahlah yang Mahakaya.
  4. Jika kita merasa zalim. Kita ini banyak salah dan dosa. Siapa lagi yang akan mengampuni dosa kita selain Allah yang Maha Pengampun.

Akhirnya, semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari wabah Corona ini, sehingga hidup kita ke depan menjadi lebih baik dan mendapatkan posisi yang mulia di hadapan Allah Swt. Amin.

Leave A Reply

Your email address will not be published.