Menjaga Semangat Ramadan Saat Pandemi

Narasumber - Asep Firmansyah

4,781

Jaringanpos Blog – Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa balighna Ramadhana. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam, akhirnya kita dapat dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan Tahun 1441 H. Bulan agung dan mulia; bulan yang penuh dengan keberkahan, rahmat, dan ampunan. Siapa yang tidak mau dipertemukan dengan bulan seistimewa ini? Semua muslim beriman tentunya sudah rindu. Semua muslim beriman tentunya sudah menanti. Marhaban ya Ramadan; marhaban ya syahrul shiyam.

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keutamaan. Bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam. Bulan yang di dalamnya terdapat Lailatur Qadar yang mana malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Bulan di mana pahala ibadah wajib akan dilipatgandakan dan pahala ibadah sunah akan diganjar nilainya seperti ibadah wajib. Kemudian, di bulan ini pula kebaikan kecil atau perkara remeh pun dapat bernilai besar. Begitu hebat dan luar biasanya bulan Ramadan. Alhamdulillah, Allah masih memperkenankan kita semua untuk berjumpa kembali dengan Ramadan di tahun ini. Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa dia mengatakan: Pernah saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Sekiranya umatku tahu apa yang ada pada bulan Ramadan, niscaya mereka menginginkan agar setahun penuh menjadi Ramadan. Karena pada bulan itu kebaikan dihimpun, ketaatan diterima, doa-doa dikabulkan, dosa-dosa diampuni, sedang surga merindukan mereka” (Durratun Nashihin).

Akan tetapi, tampaknya Ramadan tahun ini akan berbeda. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang mana kita bisa bebas beraktivitas, bergaul, berkumpul, dan bersilaturahmi. Kita masih memiliki “PR” besar yang harus kita selesaikan bersama, yakni melawan pandemi Corona. Memang agak sedikit kikuk dirasakannya menjalani Ramadan dengan pembatasan aktivitas ibadah dan aktivitas sosial. Akan tetapi, kita semua harus insaf. Kita harus dapat menahan keinginan “untuk aktif di luar rumah” pada Ramadan tahun ini demi kembalinya tatanan kehidupan yang normal kembali tanpa pandemi.

Walaupun Corona masih mewabah di Indonesia hingga detik ini, dan memunculkan keputusan-keputusan serta instruksi-instruksi dari berbagai pihak, seperti keputusan/instruksi dari kementerian Agama yang disampaikan langsung oleh Bapak Fachrul Razi bahwa “Salat tarawih agar dilakukan secara individual atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah”. Pernyataan tersebut sesuai dengan salah satu poin dari Surat Edaran Kementerian Agama nomor 6 tahun 2020 terkait Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H. Selain itu, Menag juga menambahkan bahwa di Ramadan tahun ini prosesi sahur dan buka puasa agar dilakukan di rumah masing-masing secara individu atau bersama keluarga. Beliau melarang adanya sahur on the road atau buka puasa bersama yang mengumpulkan banyak orang. Kemudian, keputusan/instruksi yang ditetapkan oleh beberapa ormas Islam yang menyatakan bahwa selama pandemi masih belum berakhir diharapkan agar masyarakat melakukan salat tarawih di rumah masing-masing sesuai dengan keputusan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah.

Dari pernyataan tersebut, kita tahu bahwa Ramadan tahun ini akan ada berbedaan suasana pelaksanaan ibadah, khususnya ibadah dan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang seperti salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, iktikaf di masjid, buka puasa bersama, kajian Ramadan, peringatan Nuzulul Qur’an, dan lain-lain. Akan tetapi, hal tersebut jangan sampai mengendorkan semangat ibadah kita di bulan suci ini. Jangan sampai karena adanya aturan untuk beribadah di rumah, kuantitas dan kualitas ibadah kita menurun. Jika biasanya di Ramadan-Ramadan sebelumnya kita aktif dan semangat dalam beribadah, tahun ini karena ada imbauan yang tidak sepakat dengan kehendak kita akhirnya ibadah kita agak sedikit malas-malasan. Na’uzubillah, jangan sampai hal itu terjadi.

Ibadah tetap harus kita laksanakan dengan sepenuh hati, penuh gairah, dan tetap menjaga kekhusyukan. Tak peduli entah itu tarawihnya di masjid bersama masyarakat umum atau di rumah bersama keluarga. Tak peduli entah itu membaca Al-Qur’annya di masjid berkumpul bersama rekan yang lain atau di rumah hanya seorang diri. Semangat ibadah di bulan suci ini harus tetap kita jaga dan pelihara. Begitu pula aktivitas ibadah dan aktivitas positif lain yang biasa kita lakukan di luar rumah saat Ramadan, tetap harus kita laksanakan dengan menyiasatinya. Jangan sampai gara-gara ada pandemi, lantas kita tidak jadi melakukan. Misalnya, jika dahulu kita biasa mengikuti kajian ilmu dengan cara mendatangi majelis tersebut secara langsung, maka tahun ini kita harus menyiasatinya melalui program kajian daring. Jika dahulu kita bersilaturahmi kepada ustaz, saudara, sahabat, teman, dengan mengunjunginya langsung, maka tahun ini kita harus menyiasati bersilaturahmi melalui media sosial atau telepon selular. Jika dahulu juga kita bebas mengadakan acara sosial, santunan, atau acara kemanusiaan lain yang mengharuskan berkumpulnya orang banyak, maka tahun ini acara tersebut sementara dilaksanakan melalui perwakilan atau perantara aparat masyarakat setempat lalu dokumentasi foto dan videonya dapat diunggah ke media sosial atau bisa juga dilaksanakan secara daring jika kegiatan tersebut diniatkan sebagai syiar.

Mari benahi diri jangan sampai keadaan ini membuat kita abai dan malah kehilangan fokus ibadah di bulan Ramadan. Jangan sampai kita memubazirkan keutamaan-keutamaan pahala yang terdapat di bulan suci ini hanya karena alasan yang sebenarnya sia-sia untuk disesalkan. Jadikan Ramadan ini sebagai momen yang bermakna bagi kita semua walaupun dalam keadaan yang tidak mengenakan dan tidak menggembirakan.

Semoga wabah ini cepat berlalu. Kita semua merindukan Ramadan yang seperti dulu. Suasana hangat berkumpul dan bersilaturahmi dengan sesama kaum muslimin. Suasana di mana orang-orang gegap gempita menyambut datangnya bulan suci. Di halaman rumah, di masjid, di musala, di jalan, di pasar, semua bergembira akan datangnya Ramadan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.