Netty Heryawan : Remaja Harus Melek Perencanaan Keluarga

Narasumber - Mulbae

4,140

Jaringanpos Berita – Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Repubik Indonesia (DPR RI) Netty Prasetiyani Heryawan mengajak remaja untuk mampu merencanakan kehidupan berkeluarga dengan baik. Aspek perencanaan ini menjadi sangat penting karena keluarga tempat lahirnya generasi. Keluarga juga menjadi penentu indeks ketahanan nasional dari berbagai aspeknya.

“Baik aspek ekonomi, politik, soaial-budaya, semua ditentukan oleh keluarga. Mengapa demikian, karena keluarga merupakan tempat pembiasaan, ideologisasi berbagai kebaika, norma, aturan, dan lain-lain. Semua itu dimulai dari keluarga. Karena itu, jika keluarga memiliki sistem ketahanan (family resilience), kita berharap kita berdampak signifikan pada ketahanan nasional. Ketahanan keluarga menjadi  modal kita dalam menghadapi era globalisasi,” ungkap Netty di Puskesmas Larangan, Jalan Ciremai Raya Nomor 37, Harjamukti, Kota Cirebon pada Jumat, 12 Juni 2020.

Netty secara khusus berkunjung ke Puskesmas Larangan dalam rangka Sosialisasi dan Bakti Sosial Program Pembangunan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Mitra Kerja pada Era Pandemi Covid-19. Turut mendampingi Netty antara lain Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) Perwakilan BKKBN Jawa Barat Elma Triyulianti dan pimpinan organisasi perangkat daerah yang membidangi program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Bangga Kencana) Kota Cirebon. Tak ketinggalan juga kader Generasi Berencana (Genre) Kota Cirebon. Bahkan, Netty menyempatkan waktu untuk berbincang dengan pegiat Genre sesaat setelah mengunjungi puskesmas.

Wakil rakyat asal Jawa Barat ini mengaku memberikan perhatian khusus pada remaja. Pengalamannya selama mendampingi sang suami, Gubernur Jawa Barat 2008-2018 Ahmad Heryawan, memberikan kesan mendalam tentang pentingnya remaja melek perencanaan keluarga. Dia berharap para remaja Jawa Barat memiliki visi jauh ke depan tentang pembangunan keluarga. Sudah barang tentu visi tersebut tidak bisa dicapai secara serta-merta atau mendadak. Pencapaian visi butuh perencanaan matang.

“Seperti saya sering sampaikan, remaja harus melek perencanaan keluarga. Remaja harus merencanakan dengan baik untuk menikah pada usia yang tepat, menentukan berapa jumlah anak yang akan mereka lahirkan dari perkawinan yang sah, dan memiliki perencanaan kehidupan agar anak yang dilahirkan adalah anak yang direncanakan. Yakni, anak yang kuat secara moralitas dan memiliki daya saing dalam menghadapi globalisasi,” papar Netty.

Bantu Warga Terdampak Covid-19

Usai sosialisasi, Netty juga memberikan bantuan kepada warga terdampak di sekitar Puskesmas Larangan. Netty menjelaskan, bantuan tersebut berasal dari negara yang dananya bersumber dari rakyat. Dalam hal ini, Komisi IX DPR RI dan BKKBN mendapat amanah konstitusi untuk menyalurkan sesuai peruntukkannya.

“Bantuan ini diberikan karena banyak di antara saudara kita yang terpaksa kehilangan penghasilan akibat terdampak Covid-19. Tidak semua kita beruntung menjadi keluarga sejahtera. Masih banyak saudara kita masuk kategori keluarga prasejahtera yang membutuhkan bantuan langsung berupa bahan makanan pokok,” ungkap Netty.

Dari sisi yang berbeda, aktivis perempuan ini menilai Covid-19 menunjukkan kuasa Allah swt. Virus yang tidak bisa dilihat secara kasat mata mampu memporak-porandakan arogansi manusia, kesombongan manusia. Orang yang selalu mengembalikan kesukseskan pada dirinya. Mendewakan ilmu pengetahuan.

“Hari ini terbukti bahwa ilmu pengetahuan, teori kedokteran, diluluhlantakkan oleh mahluk kecil yang bernama virus corona. Ini adalah ujian kita. Sebagai hamba yang beriman, kita harus mengembalikannya kepada Allah swt. Ini jelas menunjukan bahwa kita kecil di hadapan Allah swt. Kita lemah. Kita hina. Kita berhajat kepada Allah. Sehingga ikhtiar yang kita lakukan, dalam bentuk protokol kesehatan, penelitian mendapatkan obat dan vaksin, haruslah kita landasi dengan sikap yang benar. Bahwa manusia sebagai mahluk Allah, sudah selayaknya mengembalilan kepada Allah swt,” ungkap Netty.

Sementara itu, Kepala Bidang KSPK BKKBN Jawa Barat Elma Triyulianti yang hadir mewakili Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat menjelaskan, bakti sosial yang diberikan kepada masyarakat terdampak Covid-19 meliputi sejumlah kebutuhan bahan pokok. Untuk setiap titik pelaksanaan kegiatan, pihaknya menyiapkan 500 paket bantuan bahan pokok. Namun demikian, pembagian tidak dilakukan di satu tempat. Hanya 20 paket yang diberikan secara langsung kepada perwakilan warga saat kegiatan monitoring di satu tempat. Selebihnya diantarkan langsung ke rumah warga yang sebelumnya telah didata petugas. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mencegah penyebaran virus korona atau Covid-19.

“Kegiatan sosialisasi ini berbeda dari tahun sebelumnya. Selama masa pandemi Covid-19 ini, kami menjalankan protokol kesehatan. Kami menghindari pengumpulan massa besar. Semata-mata demi kemaslahatan bersama. Yang penting bantuan sampai kepada yang berhak menerimanya,” terang Elma.

Selain kebutuhan pokok sehari-hari, BKKBN-DPR RI juga memberikan bantuan khusus kepada bidan atau fasilitas kesehatan. Bantuan berupa baju hazmat yang berfungsi sebagai alat pelindung diri, masker, sarung tangan medis, pelindung muka, dan hand sanitizer. Dengan demikian, para bidan tetap bisa memberikan pelayanan kontrasepsi selama masa pandemi secara aman dan sesuai protokol pencegahan Covid-19. Ini sesuai dengan konsep penormalan baru (new normal) yang diusung BKKBN.

“New normal secara sederhana dan itu dilakukan sekarang adalah tetap sukses melakukan pelayanan dan menjalankan program (Bangga Kencana) yang aman dari covid-19. Secara konseptual atau berpikir besarnya adalah pemenuhan kebutuhan dasar manusia atau masyarakat untuk kepentingan branding power equity Indonesia di mata dunia. Tentunya berdasarkan kemandirian dan gotong royong. Kebutuhan dasar tersebut meliputi kebersihan, keselamatan, dan keamanan warga negara,” terang Elma.

Secara kelembagaan, BKKBN mengubah kebijakan untuk menyesuaikan dengan penormalan baru tersebut. Pertama, BKKBN menggerakkan para penyuluh keluarga berencana (PKB) untuk sepenuhnya membantu pelayanan. Termasuk di antaranya adalah mendistribusikan alat dan obat kontrasepsi (Alokon) untuk digunakan di fasilitas kesehatan (Faskes). Ini berbeda dengan sebelumnya yang menitikberatkan tugas PKB kepada tugas-tugas komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) atau penyuluhan.

Perubahan kedua, BKKBN akan mendistribusikan alokon kepada faskes-faskes swasta. Ini berbeda dari kondisi sebelum pandemi covid-19 yang hanya mendistribusikan alokon untuk faskes pemerintah seperti puskesmas dan rumah sakit atau klinik-klinik milik pemerintah. Dengan catatan, distribusi kepada faskes swasta tersebut tetap tercatat di BKKBN.(NJP)*** Mulbae

Leave A Reply

Your email address will not be published.