Tetap Produktif Belajar saat Pandemi

Narasumber - Asep Firmansyah, M.Pd.

4,861

Jaringanpos Blog – “Kebijakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah di rumah perlu terus digencarkan untuk mengurangi pengurangan penyebaran Covid-19.” Itulah kalimat yang diserukan oleh Bapak Presiden Joko Widodo saat konferensi pers di Istana Bogor pada Senin, 16 Maret 2020 yang lalu. Walaupun sudah satu bulan berlalu, pernyataan bapak presiden tersebut terasa masih sangat akrab hingga saat ini di telinga kita. Bahkan, kata-kata tersebut nampaknya menjadi semakin kuat saja terdengar. Hal ini karena pandemi Corona semakin meluas setiap harinya. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Salah satu aktivitas yang dilakukan di rumah sesuai anjuran dari Bapak Jokowi yaitu belajar. Waktu belajar siswa di rumah secara daring (online) khususnya di wilayah 3 Cirebon Provinsi Jawa Barat diinformasikan secara berjenjang setahap demi setahap menyesuaikan keadaan. Berkaitan dengan hal tersebut, informasi terbaru yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon bahwa belajar di rumah diperpanjang hingga 22 April 2020. Selanjutnya, disusul kegiatan Ramadan yang ternyata dilakukan di rumah masing-masing pula. Apalagi gubernur Jawa Barat telah menetapkan pada tanggal 21 Maret 2020 bahwa kabupaten  Cirebon termasuk Zona Merah Covid-19. Berdasarkan keputusan dinas pendidikan tersebut, berarti aktivitas belajar siswa di rumah akan lebih lama lagi setelah dua minggu yang lalu juga diperpanjang.

Beraktivitas di rumah atau belajar di rumah bagi sebagian anak mungkin menjadi hal yang membosankan. Bahkan, mereka ada yang lebih banyak porsi waktunya dihabiskan untuk bermain game di gawai (smartphone). Bermain media sosial dengan melakukan obrolan yang kurang penting (sambil canda-candaan) atau update status yang nilai kebermanfaatannya sebenarnya nihil hingga waktunya digunakan untuk tidur-tiduran. Kegiatan tersebut tidak berlebihan rasanya jika dikategorikan sebagai aktivitas yang membubazirkan waktu. Hal itu dapat terjadi mungkin karena kurangnya motivasi diri, kurangnya ketegasan dan pengawasan orang tua, atau faktor kekurangkreatifan anak dalam menentukan aktivitas di rumah.

Sebagai seorang siswa, dalam kondisi apapun (jika tidak ada uzur) belajar merupakan suatu kewajiban. Kegiatan belajar harus ditunaikan di manapun dan kapan pun waktunya. Dalam menjalankan aktivitas belajar di rumah, kegiatan siswa tidak terbatas pada mengerjakan tugas yang diberikan guru seperti mengerjakan soal Matematika, Bahasa Indonesia, atau IPA. Akan tetapi, jauh daripada itu siswa dapat memelajari atau melakukan berbagai hal. Misalnya memelajari lebih banyak ilmu agama, melakukan olahraga, membaca buku yang menambah wawasan, membaca karya sastra yang bermuatan nilai moral, membantu orang tua di rumah, belajar pentingnya menjaga kesehatan, mendengarkan audio motivasi, menonton audiovisual yang mengedukasi, atau melakukan aktivitas positif lainnya. Orang tua dan guru juga hendaknya terus menanamkan kepada para siswa bahwa belajar hakikatnya bukan untuk mengejar nilai tinggi, tetapi untuk meraih kompetensi sebagai bekal hidup di masa yang akan datang.

Mari kita berikan pengertian dan pemahaman kepada anak-anak kita agar mereka berkenan untuk dapat melakukan aktivitas belajar di rumah dengan sesungguhnya sehingga kegiatan yang dilakukannya akan menjadi lebih bermakna dan berharga.

Semoga aktivitas belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah di rumah yang kita lakukan bersama keluarga menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan sehingga tak terasa kita lalui. Sampai tiba saatnya kita dapat merasakan hari cerah kembali sepanjang jalan di luar rumah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.